Rindu

I_miss_you-pola
Rindu ini harga mati.

Mataku menjelajah setiap sudut mencarimu yang biasanya tampak di tempat dan jam yang sama. Tapi tidak hari ini, mungkin? Entahlah. Melihatmu bagaikan candu. Bahkan hanya dengan melihatmu.

Tiga jam sudah aku menunggumu disini. Gelas-gelas jus pesananku sudah bosan dituang dengan isi yang baru. Perutku sudah protes bila kemasukan minuman lagi. Tapi aku masih butuh duduk disini untuk melihatmu.

Kamu dimana?

Tubuhku memberontak untuk pergi dari tempat ini. Kakiku mulai bergoyang tanda tidak sabar. Mataku mulai rinci memperhatikan detail isi ruangan, memangsa setiap objek yang kutelusuri demi mencari yang mirip dengan bayanganmu. Telinga ini kualihfungsikan menjadi radar yang familiar dengan suaramu yang lebih rendah dua oktaf itu... Tapi tetap aku belum bisa menemukanmu!

Aku terpaku.

Raga dan hatiku tidak biasa menerima perasaan ini. Melihatmu, sudah satu paket dengan rasa-rasa bahagia yang membuncah di udara, tapi tetap bisa dirasa. Melihatmu, sudah rutinitas harianku sejak aku resmi terjangkit virus merah jambu. Aku makin gundah. Lama, kufokuskan pikiranku dengan mengurai reaksi alam yang selalu tersaji beriringan dengan kehadiranmu.

Pertama, yang paling bisa mendapatkan sinyal keberadaanmu adalah hatiku. Hati, entah bagaimana Tuhan meraciknya, seperti tahu dimana keberadaanmu. Dia akan memercikan perasaan senang dan bahagia yang disampaikan dengan dentuman jantung yang meningkat. Lalu diikuti oleh mata yang tak lepas menatap sosokmu. Hal selanjutnya adalah tangan yang menghasilkan bintik-bintik kecil keringat, diikuti dengan sindrom ‘jatuh’ dimana aku kan menjatuhkan semua benda yang kupegang, membuat suasana gaduh. Labuhan reaksi alam ini berakhir di perut, dimana sepertinya cacing-cacaing berdemo untuk mengeluarkan apa yang telah kucerna.

Aku rindu semua perasaan itu. Terlebih, aku rindu melihatmu.

Yang kurasakan kini janggal. Aku hanya ingin melihatmu untuk membuat diriku sempurna hari ini. Tubuh, pikiran, hati, dan semua bagian diriku sudah familiar dengan sosokmu. Bahkan kamu memiliki fans sendiri dalam jiwaku. Semua menantikan kehadiranmu. Cepatlah datang.
Mataku kembali menyisir sekitar.

Kamu dimana?

 

Tagged Cerpen

Paparazzi

Kamera-pola

Di sebentang karpet merah kalian berjalan. Bukan biru bukan juga hijau, tapi merah.  Entah kenapa karpet itu wajib berwarna merah.  Apakah warnanya memiliki arti tertentu? Entahlah. Yang jelas, sampai kapanpun kau takkan pernah bisa merubahnya. Pokoknya harus merah.

Sedangkan aku? Kadang berdiri, kadang juga melompat-lompat di sebrang bentangan karpet merah. Walaupun jarakku dan karpet merah itu hanya dibatasi seutas tali, tapi aku tetap tidak mengungkinkan untuk menginjaknya.

Kalian dengan cekatan akan menatapku setelah turun dari besi beroda empat mewah yang panjang-panjang, dan lambaian tangan pada sejumput orang yang rela menukar apa saja yang dimilikinya dengan posisi kalian saat ini.

Lalu kalian akan menatapku lama, dengan gerakan, lirikan, dan bahasa tubuh terbaik yang tentunya telah kalian latih. Sorakan sejumput orang yang kuceritakan tadi menjadi pemicu adrenalin kalian. Kalian suka dicintai, kalian suka disoraki,kalian tidak bisa tidak dipuja. Didepanku, dengan iringan sorakan itu kalian bukannya bergeming takut atau resah, kalian justru menikmatinya. Tiga sampai lima menit lamanya.

Kini giliranku beraksi. Aku, dengan seluruh dayaku, menghujam kalian dengan kilatan cahaya. Udara kuubah dengan dengung dan desis. Bisikan sunyi berubah menjadi suara bising tiga oktaf yang khas. Riuh rendah sejumput orang itu berubah jadi teriakan histeris. Kalian berubah jadi liar dengan harapan menjadi sampul majalah dan koran yang terbit esok hari. Tali pembatas antara aku, kalian, dan sejumput orang itu menegang, semua orang berdesakan ingin lebih maju, ingin lebih dekat, ingin menyentuh kalian. Semua berubah setelah aku mengeluarkan jurusku.

Ternyata tetap aku disini yang jadi kunci utamanya. Bukan kalian, bukan sejumput orang itu, bukan pula si karpet merah. Adalah aku. Adalah aku juaranya.

“We are the crowd, we’re co-coming out. Got my flash on, it’s true, need that picture of you.
It’s so magical, we’d be so fantastical...
... Baby, there’s no other superstar. You know that i’ll be papa-paparazzi. Papa-paparazzi.”
(Lady Gaga - Paparazzi)

 

Tagged Cerpen

Penuh

Glass_half_full-pola

Sudah satu jam Raina menunggu di tempat ini. Gelas berisi air putih sudah jenuh diisi, sama seperti pelayan yang jenuh bertanya kepadanya yang enggan menyerahkan mejanya untuk rentetan pengunjung lain yang masuk dalam daftar waiting list.

Raina yakin ia akan datang.

Ia memanggil kembali pelayan untuk minta diisikan air putih lagi dalam gelasnya. Demi tuntutan profesionalitas dalam bekerja, pelayan kembali mengisi gelas Raina dengan air putih penuh-penuh. Kalau bukan karena Raina yang sudah memesan meja ini sejak satu minggu yang lalu, si pelayan tak akan se sopan ini padanya. Keinginan pelanggan adalah prioritas utama restoran ini. Karena itu, keinginan Raina untuk belum memesan barang satu jenis makanan dan minuman pun dipenuhinya.

Setelah si pelayan pergi, raina meneguk isi dalam gelasnya cepat-cepat. Segera, setengah isi gelasnya kosong, pergi menyatu dalam tubuhnya.

Raina memandang gelas itu lekat-lekat dan menemukan refleksi dirinya dalam pantulan gelas bening yang entah telah berapa kali digosok itu. Ia memperhatikan bayangannya secara cermat. Mata cokelat yang ia bungkus dengan gradasi hijau di kelopaknya, pipi yang merona akibat diseret kuas besar demi mempertegas rahangnya, dan bibir merah seperti kuluman buah ceri yang susah mati ia bentuk sedemikian rupa hingga menghasilkan senyum cantik pengiring dua lesung pipinya ketika tertawa nanti.... Setidaknya ia merencanakan untuk tertawa malam ini.

Tertawa dengan orang yang seharusnya duduk di depannya sejak satu jam yang lalu.

Ia menghapus bayangannya dalam gelas itu dengan jarinya. Nihil, bayangan itu datang lagi, dan terus begitu. Bayangan itu tetap datang sama banyaknya dengan usaha dia mengusap gelasnya.

Ia menyerah. Diletakannya gelas itu tepat di depannya. Setengah terisi. Atau setengah kosong? Raina tak pernah tahu. Yang ia tahu, gelas itu seperti bersinergi dengannya, menciptakan refleksi identitas dirinya yang baru: setengah terisi, setengah terisi kekosongan.

Betapa takjub dirinya menyadari bahwa ada wujud yang dapat menjelaskan keadaan dirinya sendiri. Lebih takjub lagi, kenyataan ini dia dapatkan dari setengah gelas berisi air yang ia dapatkan gratis di sebuah rumah makan.

Rasa-rasanya seperti semua bersinergi menunjuk kejadian ini untuk membuat Raina bercermin. Pikirannya lalu memberontak mengungkit masa lalu. Tapi apa daya, kenangan adalah musuh yang susah untuk diperangi oleh diri sendiri. Yang seharusnya berperang melawannya adalah harapan baru yang dikirannya akan datang satu jam yang lalu. Maka dengan gontai jiwa Raina memasuki dimensi waktu yang lain, menyelami semuanya lagi.

Apakah ia gelas dengan setengah bagian terisi air, atau setengah bagian terisi kekosongan?

Kadang ia merasa berterimakasih atas segala perasaan sakit yang didapatkannya. Karena itulah ia ada, mentransfer napas dan sedikit rasa sakit dalam wujud kata. Sedikit, hanya sedikit. Karena ia yakin kalau ia mentransfer semua rasa sakitnya, ia hanya seoonggok manusia tanpa raga. Ia terlalu sadar kalau ia adalah Tuhan dalam setiap perih kalimatnya sendiri.

Kadang ia juga bertanya pada Tuhan mengapa ia harus mengalami fase menyakitkan dulu sebelum mengetahui fakta bahwa ia tidak bisa mendapatkan apa-apa.

Kadang ia juga bersahabat dengan kekosongan. Ia datang sesaat setelah perceraian orangtuanya, penghianatan sahabatnya, dan penantian yang tak tampak ujungnya. Sekarang hanya kekosongan yang menjadi teman baiknya.

Kadang ia ingin bertahan. Tapi tak jarang bertahan menjelma jadi lelehan air yang deras menghujam pipi hingga jatuh ke pelukan.

Dan itu terjadi lagi sekarang.

Disentak oleh degup jantungnya yang berpacu kian cepat, matanya mulai kabur menangkap gambar karena terhalang oleh airmata yang sebentar lagi meleleh.

Benar saja. Sesaat kemudian Raina sudah tunduk dalam isak tangisnya. Ia membenamkan wajahnya dalam jari-jarinya yang bertelungkup. Airmatanya menggores maskara hitam yang kini luntur jatuh ke pipinya dan membentuk gradasi garis hitam tak beraturan. Bahunya berguncang hebat, antara letih dan kesakitan memikul beban berat yang selalu datang menghantamnya.

Ia masih menangis.

Lama ia larut dalam tangisan, mencuri perhatian seluruh pengunjung restoran yang memandangnya iba.

Ia lalu menyentak dirinya sendiri untuk berhenti memproduksi airmata. Dengan jari-jarinya, ia menghapus airmata ke segala arah. Ia berhenti menangis.

Tangannya teracung tinggi, kembali memanggil pelayan. Bukan, kali ini ia tidak memesan segelas air putih. Ia biarkan gelas setengah terisi dan setengah kosong itu di pojok meja. Kini perutnya harus diisi sesuatu. Ia lalu memesan makanan.

Dan orang yang ditunggunya tak akan pernah datang.

 

 

 

 

 

 

 

*terinspirasi dari sebuah lagu

Spotlight

Spotlight-pola

 

Keke si Tempe merasa sedih. Hari ini rumah makan tempatnya selama ini tinggal menyediakan dua menu makanan baru: Martabak Telur dan Paket Ayam Komplit dengan Telur. Sebagai tetua Tempe di rumah makan itu, Keke merasa tidak dihargai. Ia cukup sadar bahwa dirinya merupakan makanan bergizi bagi manusia, tapi sedikit yang meliriknya. Keadaan diperparah dengan masuknya si Telur dalam menu baru restoran ini. Tempe dan telur menurut sejarahnya memang terkenal saling membenci satu sama lain.

Entah bagaimana awal mulanya, tapi perdebatan mengenai kandungan gizi antara Tempe dan Telur selalu menjadi topik pembicaraan seru diantara Makanan-Makanan Pokok. Tempe cukup bangga dengan peranannya yang dapat menyangkal zat radikal bebas dalam tubuh manusia. Pun dengan Telur yang sangat bangga dengan predikat pemilik asam amino paling lengkap dibandingkan dengan bahan makanan lainnya. Inilah yang lalu menjadi pergunjingan.

"Aku heran dengan kaum Tempe, kenapa mereka masih ada yang mau makan, ya? Padahal kan bikinnya jorok banget. Di injek-injek. Hiyyy.." ejek sebuah telur ketika Keke si Tempe berjalan melewati tabung gas menuju tempat persembunyiannya.

Keke dongkol. Memang melalui cara tradisional itulah dirinya dibuat. "Setidaknya Tempe tidak membuat manusia bisul-bisul. Setidaknya derajat kami lebih tinggi dibandingkan dengan kaum Telur! Kami disebut-sebut dalam bahan makanan pokok 4 sehat 5 sempurna manusia!" ungkap Keke kepada segerombolan Tempe ketika dirinya sudah sampai di tempat persembunyian.

Gerombolan Tempe yang mendengarkan cerita Keke langsung bebisik-bisik. Dalam bisiknya mereka mencaci kaum Telur. Mereka membenci kaum Telur. Benci yang meresap hingga gurat-gurat kedelai yang ada di dalam dirinya. Mereka benci kaum Telur yang selalu di sepesialkan, dan selalu dapat mengambil hati manusia dengan kreasi-kreasi fana nya. Telur orak-arik, telur ceplok, telur dadar, telur gudeg, telur setengah matang... Kaum Tempe muak! Kaum Telur bisa membuat manusia sakit! Bisul!

***

"Tok tok tok"

Pintu persembunyian Kaum Tempe diketuk. Jimbo, remaja dari kaum Tempe yang duduk dekat dengan pintu membukanya. Ternyata Panji si Brokoli.

"Ada gerangan apakah kau Panji menuju kediamanku?" tanya Keke sambil berjalan menuju Panji. Ia lalu memeluknya erat. Kaum Sayur-mayur memang dikenal sebagai kelompok yang ramah, mudah bergaul, dan bersahaja. Semua makanan menyukai Kaum Sayur-mayur.

Panji melepas pelukan Keke dan berdeham. "Aku dengar kabar tentang dua menu baru restoran ini. Dan aku langsung ingat dirimu."

"Ah, kebetulan sekali kami juga sedang membahas masalah ini"

"Aku ragu kau benar-benar membahas masalah menu baru itu." Panji mengelus-elus jenggot putihnya. "Kalau boleh kutebak, kau pasti makin kesal dengan keberadaan Kaum Telur, ya?"

"Begitulah. Ayo duduk dulu." Mereka pun menuju sofa terdekat dan melanjutkan perbincangan.

"Sahabatku, Keke, manusia adalah mahluk yang kompleks. Kau mungkin berpikir bahwa Kaum Telur terlalu mendominasi manusia. Itu memang benar adanya, tapi itu tidak berarti manusia melupakan kalian.." jelas Panji si Brokoli.

"Lantas kenapa mereka memasukkan Kaum Telur dalam menu barunya? Kenapa lagi-lagi telur? Apa namanya itu kalau bukan melupakan Kaum Tempe?!" Keke mulai berapi-api.

"Seperti yang telah kukatakan tadi, manusia adalah mahluk yang kompleks, kawan. Aku yakin mereka memasukan kaum Telur kedalam menu baru mereka semata-mata hanya karena mereka ingin mendapatkan sesuatu yang disimpan di mesin penghitung itu."

"Mesin yang selalu berbunyi 'cring' itu?" tanya Keke. 

Panji mengangguk.

"Untuk apa?"

Panji mengangkat bahunya dengan perasaan heran. "Entahlah, mungkin kebahagiaan. Yang ingin kusampaikan disini adalah, kalian, Kaum Tempe, akan tetap ada di hati manusia. Walaupun kalian tidak masuk dalam menu baru, menu spesial, dan menu gabungan, tapi kalian akan selalu ada. Kalian memiliki hati tersendiri di dalam manusia. Menu tempe akan tetap ada walaupun terpisah. Itu bukan berarti dilupakan, itu hanya berarti bahwa kalian berbeda. Kalian pantas untuk mandiri. Sadarkah kalian bahwa kalian lah makanan yang pertamakali disebut manusia saat terlintas kalimat 4 sehat 5 sempurna. Bukan telur, bukan sayur, tapi Tempe. Kalian."

Keke hanya bisa terdiam. Komentar sahabatnya itu menampar dirinya. Mungkin memang benar begitu. Tempe tidak mendominasi menu spesial, bukan disitu tempatnya. Tempe berdiri sendiri, dan memiliki arti di mata manusia. Tempe mempunyai pecintanya masing-masing. Ya, Tempe.

 

 

 

ps. Saat menulis ini saya benar-benar merasa seperti tempe. Ingin rasanya ikut masuk ke paket menu spesial. Ihik.

Tagged Cerpen

#13 Ingo


1

Saya cinta banget sama pantai. Aromanya, suara ombaknya, denyutan pasir-pasirnya basahnya ketika saya injak... semuanya.

Baru-baru ini saya membaca novel Ingo karya Helen Dunmore. Ingo mengambil setting lautan dengan tokoh utama bangsa Mer, bangsa yang hidup di laut. Membaca novel ini membuat seya bergidik. Entah kenapa, Helen Dunmore berhasil mempengaruhi saya untuk melihat sisi mistis lautan. Mahluk laut yang bisa berpikir dan membenci manusia, imajinasi negara lautan yang menempel lekat di benak saya, hingga dialog dan pemikiran si tokoh utama, Sapphire, yang sama dengan saya.

Jumat kemarin saat survey lokasi untuk PSTV di Pantai Gua Cemara Bantul dan Pantai Depok, suasana mistis dari Ingo masih terbawa. Sambil melihat laut saya membayangkan ada bangsa lain yang hidup di dalam sana, berenang bebas, dan merahasiakan keberadaannya. Entah dengan landasan apa saya tiba-tiba percaya. Rasanya asyik, membayangkan sesuatu dan memperdebatkan keberadaanya. Cukup berdebat sendiri. Dalam hati.

Ah, jadi pengen pantai lagi!

2_2

Quotes dari Sapphire di buku Ingo yang paling saya suka:

Apa kau tahu bagaimana laut menggerus batu sedikit demi sedikit sampai akhirnya batu itu menjadi pasir setelah bertahun-tahun lamanya? Tak ada yang pernah melihatnya, prosesnya berjalan sangat lambat. Sampai akhirnya pasirnya begitu halus dan berjatuhan di sela-sela jarimu. Kehilangan Dad rasanya bagai tergerus pelan-pelan oleh kekuatan yang begitu dahsyat sehingga tak ada yang bisa melawannya. Kami seperti batu yang pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang benar-benar beda.

 

-Ditulis sebagai postingan ke #13 dari proyek #31harimenulis yang biasanya saya tulis disini. Berhubung Blogger lagi bermasalah, jadi say aposting disini! :)

Biru

4695200294_6096c1f654-pola

 

 

Aku melompati dua anak tangga sekaligus. Aku tidak peduli orang-orang yang menatapku heran. Aku hanya butuh naik ke lantai tiga cafe ini, janji yang harusnya kutepati empat puluh menit yang lalu.

Dengan napas terengah-engah, kusandarkan tanganku di kedua lutut ketika aku menginjak anak tangga terakhir. Mataku menyapu ruangan sekitar dan menangkap sosokmu. Segera aku menghampirimu dan duduk di hadapanmu.

“Maap, maap, maap, maap..” kataku sambil duduk dan sedikit mengatur nafas.

“Haha, santai lah, aku juga baru dateng kok. Nih...” kamu menyodorkan es lemon tea milikmu ke arahku.

Aku meneguk habis es lemon tea yang kamu sodorkan.

“Ck..ck.. kamu haus apa doyan?” ujarmu takjub melihat kecepatan es lemon tea yang tersedot kedalam tenggorokanku.

“Dua-duanya. Hehe”

Kamu lalu memanggilkan pelayan, dan kita memesan minuman serta beberapa camilan.

“Eh beneran nih, sorry banget ya. Tadi kuliahku molor. Gila emang tu dosen, dateng ngaret seenaknya, eeeeh bubar kelasnya juga ikut ngaret!” Keluhku ketika pelayan toko pergi membuatkan pesanan.

“Haha, sabar ya. Aku malah kangen nih masa-masa kuliah yang kayak gitu. Sekarang kerjaanku tiap hari di perpus terus. Skripsi!”

“Haha.. angkatan tua! Emang enak!” ucapku jahil.

“Woy, taun depan giliran kamu kali yang jadi angkatan tua!”

“Hehe, walaupun angkatan tua, jiwaku tetap muda yaa..”

 

Obrolan kita pun terus belanjut hingga pelayan toko kembali datang membawakan pesanan. Sejujurnya aku senang dapat kembali menikmati waktu denganmu. Ya, menikmati, bukan menghabisi. Karena denganmu, waktu seolah-olah takkan bisa habis, kecuali habis untuk dinikmati.

Kamu adalah lelaki pemimpi, yang rajin menyapaku tiap pagi dengan semangat dan harapan yang digantung tinggi. Kamu adalah lelaki pecinta pagi, yang menikmati proses uap menjadi embun , dan kicauan burung penyambut mentari. Kamu adalah matahari, bagi duniaku yang sunyi.

Tapi apa kamu sadar kalau aku merasa ada yang salah dari dirimu. Pilihan bajumu hari ini yang tidak seperti biasanya, rambut di pipi, dagu, dan bawah hidungmu yang mulai tumbuh tipis... padahal kau tidak suka wajahmu ditumbuhi rambut. Ya, kamu pernah bilang itu.

Aku bertempur dengan pikiranku. Apa aku harus melontarkan pertanyaan itu?

 

“Eh, kamu... kenapa?” tanyaku memberanikan diri.

Sedetik.

Dua detik

Tiga detik.

Belum ada jawaban. Aku menghela napas, bersiap untuk semua kemungkinan terburuk. Bukan untuk hatiku, karena toh hatiku sudah hancur saat kau memutuskan untuk bertemu. Kemungkinan terburuk ini adalah untuk kamu. Kamu yang tersakiti dan menghujamku dengan perih, yang tanpa kamu sadari.

Kamu masih belum menjawab. kamu hanya tersenyum sambil memainkan es batu yang mengapung di gelas cola yang kamu pesan. Kamu mengombang-ambingkan es batu didalamnya hingga cola menghasilkan buih dan berdesis pelan. Ya, kamu diam terlalu lama. Hanya terdengar desis cola dan suara pendingin ruangan di lantai tiga yang sepi ini.

“Aku... capek.” Katamu singkat. Pandanganmu masih hampa dan tertuju pada es batumu, tapi aku paham apa maksudnya.

Kamu lelah, bukan karena masih hutang ribuan kata untuk lima bab skripsi yang kamu rencanakan. Juga bukan lelah karena orangtuamu yang menuntut untuk lulus cepat. Aku tahu pasti ini karena dia, kan?

“Aku nggak bisa berubah, La. Aku capek di tuntut. Aku capek selalu menjadi seseorang yang bukan aku. Tujuh bulan ini rasanya kosong. Aku capek..”

Aku bersender pada sofa tempatku duduk, melipat tangan di dada, dan menatapnya. Karena inikah? Alasan semalam ada 22 missed call di handphone-ku dan satu pesan singkat berisi “Ketemu yuk..”?

Aku sama sekali tidak menyangka kamu akan melakukan hal ini, bertemu denganku dan bercerita mengenai perempuanmu. Aku kira kita sama-sama tahu bahwa pernah ada cerita diantara kita, yang aku anggap nyata dan kamu anggap tabu. Aku menyanggupi pertemuan ini bukan hanya karena kamu yang meminta, tapi juga karena perasaanku yang belum berubah barang satu sentimeter pun.

Ingatanku kembali bergulir ke beberapa tahun silam yang menyenangkan. Ya, bertemu dan berkenalan denganmu adalah hal yang menyenangkan. Karena itulah aku nyaman dan terlalu banyak berharap padamu.

Kita lalu melebur. Dua pribadi kita menjadi satu dalam ikatan pertemanan. Tidak ada yang salah dengan itu. Tidak ada yang salah dengan janji-janji yang urung kamu tepati, tidak ada yang salah dengan satu keping cd berisi lagu ciptaanmu yang kamu beri sebagai memoar untuk kucingku yang  telah mati, tidak ada yang salah dengan malam-malam yang kita habiskan untuk bersama-sama mengerjakan tugas, bahkan tidak ada yang salah ketika kamu mengajakku keluar di malam minggu.

Tidak ada yang salah, kecuali keputusan-keputusan yang tidak pernah kamu ambil. Atau keputusan-keputusan yang tidak mau kamu ambil?

Ruangan kembali dibanjiri dengan suara buih cola dan mesin pendingin ruangan. Sunyi. Bibir kita sama-sama terkatup. Terlalu banyak kata untuk dilontarkan sehingga aku memilih untuk menyampaikannya lewat tatapan mata dan makna. Entah apakah kamu merasakannya.

Lama sesudahnya, kamu lagi yang angkat bicara.

“Kayaknya aku mau ngambil keputusan buat.... putus.”

Dan aku bisa melihat matamu memerah.

Aku, dengan segala kemampuanku mengutuk perempuanmu. Cukup dalam hati. Perempuanmu, telah membuat satu-satunya lelaki yang kucintai menangis. Perempuanmu yang tidak aku kenal, telah menghancurkan hatiku dengan melihat kondisimu yang seperti ini.

Aku benci perempuanmu. Aku benci perempuanmu mulai dari tiap ujung jengkal rambut hingga kakinya. Aku benci sifatnya yang membuatmu takluk. Aku benci caranya yang membuatmu jatuh cinta. Aku benci tingkahnya yang membuatmu tergila-gila. Aku benci kemampuannya untuk membuatmu seperti ini.

Aku mengutuk perempuanmu. Cukup dalam hati. Cukup tersirat lewat mata dan makna.

Dimana kamu yang aku kenal? Dimana kamu yang selalu meminjamkan bahumu untukku bersandar? Dimana pagi yang selalu kamu miliki, yang selalu datang bersamaan dengan mentari yang tak pernah ingkar janji?

Semuanya tertutup oleh perempuan itu, kan?

Dia adalah perempuan paling beruntung. Mendapatkan cinta dan perhatianmu. Dan aku mengutuk, kenapa perempuanmu tak menyadari hal itu?

Dia adalah perempuan paling beruntung. Karena mendapatkan predikat ‘sempurna’, ‘dicinta’ sekaligus ‘sederhana’ darimu. Dan aku mengutuk, kenapa perempuanmu tak menyadari hal itu?

Dia adalah perempuan paling beruntung. Karena menguasai alam pikirmu, menjadi orang pertama yang terlintas dibenakmu. Dan aku mengutuk,  kenapa perempuanmu tak menyadari hal itu?

Dan kamupun berusaha tetap tegar walaupun aku tahu, sama sepertiku, kini matamu adalah representasi hatimu saat ini. Sejak kapan kamu seperti ini?

Menangislah. Bantu hatimu menjerit dengan buliran air mata. Biarkan sedihmu larut bersamanya sementara aku mengutuk perempuanmu.

Lama sesudahnya kamu baru mau angkat bicara. “Maaf...” katamu pelan.

“Buat apa?” tanyaku heran.

Kamu memejamkan matamu seolah-olah itu adalah bagian tersulit dalam hidup. Seandainya kamu dapat kubaca, apa yang sebenarnya kamu tutupi? Matamu untuk menghilangkan bulir airmata selanjutnya, ataukah bayangan perempuan itu? Karena kamu tampak kesakitan.

“Karena merepotkanmu, dan... melihatku seperti ini.” Katamu datar sambil menatapku dengan matamu yang makin merah.

Ini, ini yang tidak pernah kamu sadari. Peleburan hubungan kita telah menetralkan hubungan kita sebenarnya. Rasanya aku ingin berbisik halus di telingamu: Tak perlu ada rasa malu, tak perlu ada yang harus ditutup-tutupi. Asalkan bersamaku, asalkan denganku, kamu bebas menjadi dirimu sendiri. Untuk bersamaku, kamu tidak perlu berubah menjadi yang bukan kamu.

Tapi aku terlalu pengecut dari apa yang aku bayangkan. Aku hanya menggeleng lemah. “Ini aku, Mon, ini aku.” Dan spontan kedua pipiku meregang membuat senyuman yang terpaksa.

Kamu menatapku tulus, menyorotkan ribuan tanda terimakasih dalam bahasa ribuan umat: senyum.

Aku lalu merogoh kantong celanaku dan memberikan sapu tangan kepadamu. “Pake nih, kamu jelek kalau ingusan.” Kataku mencoba biasa saja.

Ia terbahak dengan sedikit tersedak. “Haha.. kamu ini ya, selalu tahu apa yang harus di lakukan, apa yang harus di ucapkan.”

Aku berkelit. “Nggak juga kok, aku hanya melakukan dan mengucapkan apa yang seharusnya aku lakukan dan ucapkan..”

Kamu menatapku lagi, kini dengan pandangan yang tidak bisa aku bahasakan. “Seandainya mudah, La, seandainya mudah untuk mencintai kamu...”

“A-apa?” kataku kaget. Apa yang barusan dia katakan?

Tawamu meledak lagi. “Haha.. nggak. Eh, ini.. biru.” Katamu memperhatikan saputangan yang aku beri. “Warna favoritmu, kan?”

 

Seandainya mencintaimu adalah hal yang mudah, Mon. Seandainya.

 

Tagged Cerpen

Sahabat Baru Effra.

Effrayanta.

Keluargaku tidak pernah tahu ini. Menurut mereka, aku hanyalah perempuan biasa yang selalu tertutup pada dunia luar. Aku memang pemalu dan agak sulit untuk bergaul. Apalagi di lingkungan baru. Jangankan menyapa orang lain, tersenyum pun aku malu. Mungkin karena itulah sudah satu bulan ini kerjaanku hanya di rumah, menghabiskan waktu dengan baca buku, dan menjelajahi dunia maya, tanpa pernah berinteraksi. Aku hanya keluar rumah seadanya, jika ibu perlu bantuan untuk membeli sesuatu di warung, atau ayah yang kesal karena si Bleki, anjing jenis golden river peliharaan keluarga kami, tidak ada yang mengajaknya jalan-jalan.

Tapi satu bulan belakangan ini rutinitasku keluar rumah menurun drastis. Ibu dan ayah mungkin masih khawatir dengan kondisi tubuhku yang masih rentan. Ya, dua bulan yang lalu aku mengalami kecelakaan. Motor yang kunaiki ditabrak sebuah mobil berkecepatan tinggi.

Aku masih ingat betul kecelakaan itu. Hari itu adalah hari pertama Ujian SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ayah dan Ibu khawatir aku akan telat, jadi mereka menyuruhku untuk datang lebih awal. Jam enam pagi, aku sudah siap berangkat dengan motorku. Baru lima belas menit di perjalanan, ketika sampai dipermpatan, motorku ditabrak sebuah mobil berkecepatan tinggi yang melanggar lampu merah. Usut punya usut si pengemudi yang baru pulang clubbing itu mabuk berat, dan merasa tidak melihat lampu merah.

Aku pun terlontar jauh dari motorku. Darah berceceran dan menggenang di aspal. Motorku remuk, beberapa bagiannya hilang. Aku pun segera digotong ke rumah sakit oleh warga sekitar.

Kondisiku saat itu? Tengkorakku retak, dan beberapa tulangku patah, ujar dokter yang memeriksaku. Aku dirawat di rumah sakit tiga minggu lamanya. Seminggu pertama, aku dinyatakan koma. Minggu kedua aku sadar, tapi hidupku hanya bergantung dari peralatan listrik dan selang-selang yang menempel di tubuhku. Minggu ketiga, aku dipindahkan ke ruang inap biasa. Enam hari kemudian, aku diperbolehkan pulang dengan syarat harus bed rest total selama satu bulan. Dokterpun heran dengan perkembangan kesembuhanku yang menakjubkan. Menurutnya, orang yang habis kecelakaan dan terbaring koma satu minggu lamanya, minimal harus 30 hari dirawat inap di ruang ICU.

Jadi, inilah aku, Effrayanta, 18 Tahun, lulusan terbaik SMAN 1, dan (ehm) belum kuliah alias pengangguran. Kerjaanku setiap hari hanyalah terbaring lunglai di tempat tidur sambil ditemani beberapa buku. Padahal aku merasa sehat-sehat saja, lho. Orangtuaku saja yang memaksaku untuk tidak keluar rumah. Jangankan keluar rumah, untuk menuju dapur di lantai satu saja orangtuaku sudah was-was.

“Effrayanta, coba lihat siapa yang datang!” Seru ibuku sambil masuk kedalam kamar.

“Effraaaa!!! Kok bisa siiiiiih??” Joy, sepupu sepermainanku, langsung mendobrak masuk kamar dan duduk di tepi ranjangku. Tak lupa, tangannya mengelus-elus pelan pelipisku yang masih diperban. Padahal aku sudah memastikan ke Ayah dan Ibu untuk tidak perlu memerban kepalaku. Aku baik-baik saja.

“Jatuh, Joy..” kataku singkat enggan berbasa-basi.

Tapi dasar watak Joy yang cerewet, aku terus-terusan disodori pertanyaan-pertanyaan seperti: “Jatuh dimana?” “Yang nabrak siapa?” “Trus, dipenjara nggak tuh orang? Harusnya dipenjari sepuluh tahun tuh yang kayak gitu!” “Trus kuliah lo gimana?” dan pertanyaan-pertanyaan lain sampai pusing aku dibuatnya. Bukan karena jawaban yang harus aku berikan, tapi karena suaranya Joy yang cempreng kayak bebek.

Syukurlah Ibuku tahu apa yang harus dilakukan. Dengan alasan Joy yang baru datang dari Surabaya (well, dia KULIAH di Surabaya sekarang), ia meminta Joy secara halus untuk istirahat di kamar sebelah.

Lima menit kemudian kamarku kembali sepi. Lama-lama bosan juga dengan keadaan seperti ini. Akupun menatap langit-langit kamar, pikiranku kembali melayang. Kecelakaan yang aku alami ini juga memberikan hikmah untukku. Aku jadi punya sahabat baru. Ya, sahabat pertamaku.

Dia selalu datang saat aku dirawat di rumah sakit. Bertemu dan bercerita banyak hal dengannya membuat hari-hariku lebih berwarna. Dia seakan-akan tahu banyak hal. Makin lama aku berteman dengannya, aku jadi yakin kalau dia memang tahu banyak hal. Ketika aku dipindahkan dari rumah sakit pun, dia masih sering mampir ke rumahku. Menyenangkan untuk mengobrol bersamanya. Entah kenapa. Padahal, seperti yang kalian tahu, aku ini orang yang canggungan. Oke, kecuali dengannya.

Tapi sudah seminggu belakangan ini dia tidak menghubungiku. Aku khawatir, jangan-jangan dia kenapa-napa. Maka dari itu aku memutuskan untuk menemuinya tengah malam ini. Masalahnya adalah, susah sekali untuk bertemu dengannya. Kau tahu, dengan semua masalah penyakit ini, aku jadi tidak leluasa kemana-mana. Akupun terus memikirkan beribu cara untuk menyelinap keluar dari rumah ini, hingga tanpa kusadari dengan perlahan aku tertidur…

***

Jam menunjukan pukul sebelas malam ketika aku terbangun. Sial! Aku belum memikirkan cara apapun untuk bertemu dengannya! Dengan sigap, setelah cuci muka dan gosok gigi seadanya, aku menyelinap keluar rumah. Sukses! Ternyata semua orang sedang asyik menonton tv sehingga tak menyadari aku yang menuruni tangga dan menyelinap keluar rumah. Sahabatku, Aku datang!!

 

Joy.

Effrayanta menghilang!

            Tante Rani, ibunya Effra lah yang pertamakali mengetahui hal ini. Beliau hendak memastikan putrinya untuk meminum obat, tapi ternyata Effra tidak berada di kamarnya! Kemana anak itu pergi?

Sungguh, aku benar-benar khawatir dengan sepupuku yang satu ini. Dibalik sifatnya yang pendiam, aku baru saja diceritakaan Tante Rani dan Om heru kalau tingkah Effra berbeda setelah kecelakaan (hampir) maut itu terjadi.

Menurut mereka, Effra jadi sering ngomong sendiri. Ini dimulai ketika Effra baru sembuh dari koma selama satu minggu. Sikap Effra tiba-tiba berubah drastis. Ia tiba-tiba sering melamun, tersenyum, tertawa, bahkan ngomong sendiri! Itulah alasan yang membuatku jauh-jauh datang dari Surabaya. Walaupun Effra memang termaksuk orang aneh yang sulit untuk bergaul, tapi belum pernah aku tau kalau Effra ternyata punya… teman khayalan! (Istilah yang diberikan Om Heru dan Tante Rani).

“Kita berpencar saja di komplek perumahan!” Seru Om Heru sambil membagikan senter kecil padaku, Tante Rani, dan Bik Sum. “Saya mau lapor ke Pak RT dulu, sekalian minta bantuan juga sama orang yang lagi Siskamling. Ayo!” Om Heru pun langsung keluar rumah, diikuti kami bertiga.

Udara malam yang dingin tidak menyurutkan niat kami untuk mencari Effra.Di depan rumah, kami berpencar. Aku memilih mencarinya ke dekat taman bermain yang berada tidak jauh dari rumah Effra. Bleki mengaum tepat ketika aku menutup pintu gerbang. Tenang Bleki, majikanmu pasti ketemu!

Lama aku mencari, senter kuarahkan ke segala arah sambil sesekali aku meneriakkan nama Effra. Di jalan, aku pun bertemu beberapa pemuda yang sedang bertugas Siskamling. Hingga akhirnya aku mencari Effra ditemani dengan Pak Maman, tetangga sebelah rumah Effra yang kebetulan sedang dapat tugas untuk Siskamling.

“Neng, coba

 kita cari kesana.” Ujar Pak Mamang menunjuk satu gang perumahan yang gelap.

“Kesana, Pak?” tanyaku sedikit khawatir. Aku takut. Tempat itu menyeramkan. Di ujung sana ada rumah tak berpenghuni yang gelap, pohon beringin, dan auranya… sedikit mistis.

Pak Maman mengangguk, lalu berjalan di depanku.

Ketika melewati rumah itu, bulu kudukku langsung berdiri. Aku berjalan sedekat mungkin dengan Pak Maman sambil terus menyenteri beberapa tempat dan meneriakan nama Effra.

Aku melihat sesuatu di bawah pohon beringin.

“Pak! Itu Pak, lihat!” Tunjukku sambil menyenteri pohon yang ku maksud.

Perlahan, sosok itu makin jelas. Ia turun dari pohon dan…

“EFFRA!!!” Teriakku keras.

Effra terlihat melompat dari atas pohon, dan menatapku heran.

“Joy?” katanya tenang.

“Neng Effra! Neng baik-baik saja kan?” Pak Maman lalu berlari menghampiri Effra.

Aku, dengan cepat langsung mengambil handphone dari dalam saku celana dan menghubungi orangtua Effra untuk mengabari kalau Effra sudah ditemukan.

“Sumpah, Fra, lo ngapain disini? Bikin khawatir aja! Ngapain lo malem-malem manjat pohon?!” kataku sambil mendekati Effra.

Effra tersenyum janggal. “Nggak kok, cuma main.” Katanya datar dan tanpa ekspresi.

“Hah??”

“Iya, sama sahabatku. Disini.” Effra menunjuk pohon beringin yang barusan dinaikinya.

Dari kejauhan, aku mendengar kerumunan orang datang mendekat. Semoga itu Tante Rani, Om Heru, Bik Sum, dan orang-orang yang Siskamling. Semoga.

Kakiku lemas, badanku bergetar.

Effra benar-benar sakit!!

Tagged misteri

Selamat Ulang Tahun

Kau membukanya dengan sedikit tergesa-gesa. Entah karena rasa penasaranmu yang membuncah, atau perasaanmu yang segera ingin mengakhiri ini. Enam tahun sudah kita menjalankan ritual ini. Maka jangan heran ketika aku hapal semua runtutan acara yang akan kita lakukan.

Peraturannya sederhana. Jam tujuh malam, kita akan duduk berdua berhadapan yang disekat oleh satu loyang kue lezat. Lalu kita akan memakannya pelan-pelan sambil bercerita, bercerita, dan terus bercerita hingga akhirnya salah satu dari kita dikalahan oleh kantuk. Kita melakukan ritual ini dua kali dalam setahun, di tanggal pertamakali kita meneriaki dunia dengan tangisan masing-masing. Kau akan datang, meninggalkan semua kesibukanmu demi acara “sakral” ini. Begitu pula aku.

“Cheese cake!” Katamu riang setelah mengetahui isi dari kotak yang kau buka tadi.

“Hehe, aku yang buat, lho..” kataku pamer.

Dia, merupakan spesies penggemar keju nomer wahid. Maka selama dua minggu terakhir, dapur rumahku selalu penuh dengan eksperimen kue-keju-tidak-layak-makan, hasil uji coba demi satu hidangan yang terpapar di depan kami ini.

“Aku makan ya..”  katanya seraya mengambil pisau.

“Hei, tunggu! Tiup lilin dulu!”

 

Img_2511-pola

 

Img_2583-pola

 

“Apa permintaanmu di tahun ini?” tanyaku setelah memakan irisan besar cheese cake yang ke tiga. Enak juga kue hasil buatanku.

“Hm... ada deh!” Kau mengelak menjawab dan mendongak menatap bintang.

Langit cerah malam ini. Dari atap toko kerajinanku ini, bintang terlihat berpendar jelas. Kau selalu bilang suka ketinggian, dan atap toko ini sengaja ku pilih untuk merayakan hari spesial ini.

“Ide kamu, buat bikin kebun di atap toko kayak ini, brilian banget! Kamu bakal jadi arsitek hebat!” ucapmu membuka topik pembicaraan baru.

“Dan ide kamu, meminjamkan modal untuk membuka usahaku ini juga hebat banget!” jawabku sedikit ketus.

“Hahaha, we are not talking about bussiness right now, right?” dan kau melepaskan tawamu lagi. Aku ikut tergelak.

Toko ini, hadir berkat dukungan spirit dan materi darimu. Satu tahun yang lalu, kamu memberikan modal usaha untuk membuat toko kerajinan ini. Di kala semua orang mencibirku sebagai Sarjana Teknik jurusan Arsitek nganggur yang beralih profesi menjadi crafter, kamu malah menyemangatiku.

 

 

“Ki, gimana sih rasanya menjadi.. tigapuluh?” tanyaku membuka topik lain pembicaraan kami.

Kamu menatapku sabar. Ya, mata itu menatapku. Mata yang pernah membuatku jatuh.

“Rasanya? Hmmm...” ia memejamkan mata. “Keju.” Ia tersenyum ke arahku sambil menyuap potongan kue yang entah ke berapa.

“Iiih.. Bukaaaan, maksudku, apa kamu merasaan perubahan? Apa semua target yang kamu inginkan dulu sudah tercapai?”

“Hahaha,” Kau kembali tergelak. Kau selalu melepas tawamu ketika aku sedang emosi. Entah kenapa.

“Heh, malah ketawa! Jawab!”

Kau meredam tawamu dan menatapku. “La, dulu aku lulus kuliah tiga setengah tahun, cumlaude lagi, dua bulan setelahnya, aku ditawari kerja di salah satu bank swasta. Itu impianku, La...”

Kau menatap hampa potongan cheese cake. Pikiranmu me-rewind kembali surut pasang kehidupanmu. Kau selalu bersemangat ketika menceritakan pengalaman hidupmu.

“...sampai akhirnya aku ketemu Vicky,”

Apakah kau sadar kalau kau selalu menggoyangkan jari manis tangan kananmu ketika membicarakan Vicky? Sesuatu yang melingkari jari manismu itu kau anggap sebagai perisai. Perisai dari segala kemungkinan yang, aku yakin, tidak akan kau lakukan. Kau mencintai Vicky melebihi nyawamu.

Sementara kau sibuk membicarakan Vicky dan keluarga kecilmu, jiwaku melayang dalam pusaran memori enam tahun silam. Bagaimana kita bertemu, bagaimana aku begitu menyayangmu...

Usia kita terpaut tujuh tahun. Kau 24 dan aku 17 saat pertamakali kita bertemu. Kau memposisikan dirimu sebagai senior paskibra bertemu danton pleton putri di lomba baris berbaris. Entah berdasarkan apa, ketika aku mulai menyukaimu, aku percaya dan memiliki firasat bahwa suatu saat kita pasti akan bersama. Dan bersama itu berbeda dengan memiliki.

Dimulai dari perkenalan itulah yang lantas mebawa kita pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Kita selalu menikmati apa yang kita jalani. Karena itulah, perasaanku padamu luntur dimakan waktu, dan tergantikan dengan rasa yang baru. Kau, adalah cerminan sosok  abangku yang pergi terlalu cepat dalam kecelakaan motor saat aku berusia 14. Aku, adalah orang yang pertama tahu ketika kau akan menikahi Vicky. Dan asal kau tahu, aku menangis tiga hari berturut-turut (kecuali waktu makan dan mandi) ketika mengetahui kau akan menikah. Tapi itu bukan perasaan sedih, aku turut bahagia untukmu. Tapi aku takut, aku tidak mau kehilangan kakak untuk yang kedua kalinya.

“...Ya jadi begitu.” Kau mengakhiri ceritamu. Aku mendongak dan kembali menarik jiwaku untuk duduk tepat dihadapanmu.

“Terus, terus, ceritakan tentang Adam!” kataku sambil menguap.

Dengan cekatan, kau melirik arlojimu. “Gila, sudah jam 12. Kamu udah ngantuk kan? Yuk, kita sudahi, dilanjut besok pagi saja.”

Kontan aku menolak. Dengan sedikit berteriak aku berkata, “Nggak! Besok kan kamu harus berangkat pagi-pagi ke Bandung. Pokoknya malam ini kita harus begadang! Nggak usah tidur kalau perlu!”

Dan kamu mulai tergelak. Sudah ku beritahu kan kalau dia selalu tertawa saat aku sedang emosi?

“Iya, iya..” katamu sabar sambil bersiap untuk kembali bercerita mengenai malaikat kecilmu yang baru berusia satu tahun. “Adam, adalah hadiah terindah dari Tuhan....” dan kamu terus bercerita, merefleksikan Adam dalam kata-kata yang istimewa.

 

Dalam ritual keenam ini aku mulai menyadari. Dari balik matamu yang berbinar ketika bercerita, dari balik usahamu untuk datang jauh-jauh ke Surabaya demi menemuiku, aku yakin akan satu hal. Kau bahagia. Lebih bahagia dari apa yang selama ini kau bayangkan. Dan aku bersyukur untuk itu.

Jadi, dalam hari jadimu yang ke tigapuluh ini kuselipkan doa spesial pada Tuhan, “Tuhan, buatlah dia selalu bahagia, bahagia, dan bahagia. Buatlah dia selalu menikmati dan mensyukuri apa yang ia punya, dan semoga, semoga ritual ini akan terus berlangsung sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Amin.”

Selamat ulang tahun! :)

 

Tagged Cerpen Ritual

Abstrak

Untitled-pola

Selama ini aku tidak pernah bisa menikmati sebuah lukisan. Tidak dengan makna tersirat seperti apa yang terkandung dalam lukisan sawah yang terpampang besar di ruang tamu rumahku. Kata ayahku, ada sebuah ‘penantian’, ‘kesabaran’, dan ‘kerja keras’ dalam lukisan itu. Lalu lama aku memandangnya, dan lukisan itu tak lebih dari hamparan sawah luas dengan satu saung di pojok kanan atas. Itu tetap lukisan sawah biasa.

Lalu, kakakku menunjukkan sebuah buku karya salah satu pelukis terkenal yang aku lupa namanya. Didalam buku itu, ada kumpulan lukisan yang.... aneh. Aku bersumpah demi urat nadiku bahwa lukisan itu tidak lebih bagus daripada gambar-gambar di buku mewarnai anak-anak SD. Bahkan kujamin jika aku menggambar menggunakan tangan kiri, gambarku akan seribu kali lebih bagus daripada lukisan itu. Lukisan itu hanya tampak seperti percikan tinta warna yang melekat pada selembar kanvas. Bagian apa dari lukisan itu yang bisa dinikmati?

Kau tahu, aku memang tak pandai dalam membaca makna.

Tapi mencintaimu itu unik.

Aku pernah jatuh cinta sebelumnya, sering, tapi tidak seperti ini. Aku gila. Dengan memahami jeda antara ucapanmu dan hapal gerak-gerik sudut derajat ujung bibirmu untuk membentuk senyuman. Aku gila. Dengan melihat caramu menutup kelopak mata untuk berkedip. Aku gila. Dengan berusaha mencari ruang kosong dalam mata cokelatmu ketika kita sedang berbicara. Aku gila. Meresapi kata-katamu yang menghujam tanpa henti. Aku gila. Karena menikmati ini semua seperti kecanduanku pada tanah sehabis diguyur hujan.

Tuhan, apa ini? Bangunkan aku jika ini mimpi. Selama ini aku sadar dengan kemampuan untuk tidak memaknai, dan itu yang aku nikmati. Aku tersiksa, dengan terus memahami hal ini.

Hello? Are you there?”

Pertanyaannya melontarkan ragaku untuk kembali menapak di bumi. Sesaat tadi aku terbang, entah kemana.

“Ha?” Ucapku sedikit tolol.

“Ngerti kan apa yang aku jelasin tadi?”

“Ah... Iya, iya..” Kataku kikuk sambil menggaruk bagian belakang kepala.

 

 

Dan sehabis ini, ketika aku pulang ke rumah, lukisan sawah dan buku kakakku takkan pernah terlihat sama lagi.

 

Tabir

Pantai

 

"Apa yang kau nikmati dari memandang ombak yang berkejaran?"

"Upaya."

"Ha?"

"Ombak pertama yang hendak mencapai bibir pantai, selalu ditenggelamkan oleh gulungan ombak setelahnya. Dia berupaya untuk terus menyentuh pesisir tanpa ia sadari akan dihempaskan oleh gulungan ombak lain yang lebih besar..."

"Oh..."

 

Pertanyaan singkat yang kau lontarkan tepat delapan bulan yang lalu membuat aku kembali terhenyak dan mendapati pertanyaan besar yang mulai menghantui. Tanda tanya itu merajai alam pikirku. Rasional dan irasional. Semuanya. Apa yang membawaku kembali ke pantai ini?

Sekarang aku duduk terlalu dekat di pantai yang lembab. Kakiku menyentuh upaya terakhir ombak untuk mencium daratan. Kau selalu melarangku duduk sedekat ini. Pegi ke pantai, menurutmu tak lebih dari sekedar memandanginya dari kejauhan, membaui garam, dan melihat matahari terbenam. Tak pernahkah kau rasakan nikmat ketika buih-buih ombak yang berusaha mengikis kakimu? tak pernahkah  kau merasakan dentuman ombak diatas perahu kayu? tak pernahkah kau setidaknya mencoba untuk merasai itu?

Kebersamaan kita adalah gejala kosmik. Aku laut dan kau awan. Kita adalah indah, berdiri diatas perbedaan, bersatu dibawah batas keyakinan yang kausebut cinta. Aku adalah air, yang menderu dan mendayu mengikis daratan atas nama lautan. Kau adalah awan, hasil uapan yang menggumpal, yang suatu saat akan menghujam daratan, juga lautan. Secara sadar kita pecah. Aku terus mengikis daratan dibawah awan, dan kau terus menghujam daratan juga lautan.

Namun kita tidak sadar, walaupun kita indah, kita tak akan pernah menyatu. Sadarkah kau akan garis cakrawala maya? yang membentang memisahkan laut dan awan? Itu tabir kita. Yang bahkan kita sendiri lupa akan keberadaannya. Entah karena terlalu pekat, atau terlalu tipis sehingga kita tak bisa melihat.

Dan kita nampak lebih indah jika garis cakrawala maya itu tetap ada. Seperti ini. Aku melihatnya sekarang. Tabir itu tetap ada.

 

 

Gulungan ombak besar itu sebentar lagi menghampiriku. Dengan pecahnya ombak itu menjadi buih yang menyentih kakiku, kuyakinkan kamu bahwa rasa ini juga turut membuih. Hilang diserap pasir, atau hilang menguap. Selamat tinggal Awanku.

 

-d-